Semprulisme Pedagang Ketoprak
Seorang tukang ketoprak, sebut saja namanya Semprul, walau hidupnya susah namun genit bukan main. Dia itu doyannya godain cewek-cewek cantik. Tapi suatu saat dia menanggung akibatnya. Apa itu?
Jadi begini ceritanya. Sebuah pepatah sambil menyelam minum air rupanya dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab sambil berdagang, Kampret suka pe de ka te ke cewek-cewek cantik.
Jika bertemu cewek cantik dia senang sekali mengajak ngobrol. Walau tidak membeli dagangannya, Semprul masih tetap senang mengajaknya ngobrol. Sebaliknya bila bertemu cewek jelek, ibaratnya meski memborong dagangannya sampai habis tetap saja dia cuekin.
Hingga suatu saat dia bertemu dengan seorang cewek cantik, sebut saja namanya Minul. ”Hai cewek, godain kita dong,” ujarnya semula. Betapa hebatnya Semprul, karena tidak membutuhkan waktu yang lama dia sudah akrab sekali dengan Minul.
Selain berani, dia itu begitu ahli ngecap dengan cewek. Tapi sejurus kemudian nyalinya berubah menjadi ciut. Sebab tiba-tiba dia mendengar suara tembakan ke udara, ”dor dor dor.”
Dia juga mendengar suara bogem mentah,”bletak bletok bletuk.” Sebab dia langsung dihajar oleh Kampret, yaitu seorang anggota reskrim di sebuah polres. Usut punya usut ternyata Minul itu adalah istri simpanan Kampret.
Rupanya Kampret langsung naik pitam begitu melihat Minul digodain oleh tukang ketoprak. Yang dia sayangkan, kenapa istri simpananya itu mau melayani rayuan gombal tukang ketoprak. ”Idih enggak level, emangnya gue selama ini dianggap tukang syomay apa,” gumam Kampret yang kesal kepada istri simpanannya itu.
Lantas kekesalannya itu dia lampiaskan sepenuhnya untuk menghajar Semprul hingga babak belur. Setelah puas, dia menarik tangan Minul untuk pulang. Sementara itu sesama pedagang kaki lima yang semula diam saja rupanya kasihan juga melihat Semprul yang bibirnya jontor itu.
Para pedagang itu memotivasi Semprul agar berani melaporkan Kampret ke petugas provost. ”Mentang-mentang dia itu polisi lalu main gebuk seenaknya. Ayo lapor,” ujar salah seorang tukang bakso.@
Semprulisme Hamba Oportunis
Seorang yang baru saja bertobat, sebut saja namanya Semprul, akhir-akhir ini gemar pergi ke masjid. Dia begitu tercengang mendengar sebuah ceramah khatib salat Jumat. Namun setelah itu konsentrasinya jadi buyar hingga membuat salatnya berantakan. Kenapa sih Semprul?
Jadi begini. Semprul itu merasakan akhir-akhir ini rezekinya lagi seret. Mungkin dia merasa banyak berdosa atau apa. Lantas dia memutuskan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sebenarnya niatnya bukan seratus persen ingin tobat. Melainkan tak lebih hanya ingin diberikan rezeki nomplok. Nah, ada yang menasihatinya agar sering-sering berada di masjid. Nanti akan ada petunjuk sendiri dari-Nya.
Hingga pada hari Jumat diapun ikut salat Jumat. Khatib ternyata berceramah tentang dibukanya pintu rezeki. Maka Semprul memasang telinga lebar-lebar karena ingin mendapatkan ’’untung beliung’’ itu. ’’Nah ini dia,’’ ujar Semprul bersemangat.
Tapi, si penceramah itu bukan dari tempat Semprul salat, melainkan dari masjid tetangga. Khatib tersebut menyebutkan doa-doa tertentu yang menyebutkan rezeki turun dari langit atau ke luar dari bumi. Anehnya, Semprul menjadi penasaran luar biasa setelah itu. ’’Oh jadi rezeki itu bisa turun dari langit, atau ke luar dari bumi. Gimana caranya ya,’’ pikirnya.
Sampai tiba salat Jumat, dia terus mendengarkan dengan penuh konsentrasi dan memikirkan agar bisa mendapat ’’durian runtuh’’ itu dari langit. Begitu konsentrasinya hingga ketika sang imam salat rukuk dan sujud, Semprul masih saja berdiri memikirkan ceramah dari masjid tetangga sembari memejamkan mata.
Tak pelak, dia sampai ketinggalan satu rakaat. Sebab yang lain sudah sujud sampai berdiri lagi di rakaat ke dua, Semprul masih berdiri saja berdiri sembari memejamkan mata. Akhirnya Semprul harus puas salat Jumat dengan satu rakaat saja.@
Semprulisme Wartawan Koran
Seorang wartawan koran, sebut saja namanya Semprul dua kali terkecoh oleh iklan salah satu bank. Yaitu adanya mobil yang terjun bebas karena terkena tiupan angin. Bagaimana kok bisa terkecoh?
Yang pertama, Semprul melihat koran. Dia terheran-heran melihat mobil nyangkut di atas genting gara-gara tertiup angin. ”Walah, ini di mana peristiwanya,” ujar Semprul saat itu.
Sebagai seorang jurnalis, dia lalu mengkritik berita tersebut. Sebab peristiwanya tidak ditulis dengan gamblang. ”Ngambil fotonya bagus, tapi beritanya kok tidak lengkap sama sekali,” gumammnya.
Keruan dia ditertawakan rekan-rekannya. ”Itu iklan bego,” ujar salah satu rekannya. Peristiwa itu berlalu. Pada saat libur panjang, Semprul kebagian piket. Dia yang paling bertanggung jawab meliput peristiwa saat itu.
Semprul meramal tidak bakalan terjadi peristiwa yang penting saat itu. Sebab, hari libur gitu loh. Maka dia memilih bersantai saja bersama keluarga. Malahan dia mengajak keluarganya berjalan-jalan naik mobil.
Namun untuk berjaga-jaga, dia selalu memantau kejadian lewat radio. ”Ada mobil terjun dari lantai VI gedung…,” bunyi di radio itu. ”Semua pengunjung mengerumuni mobil itu,” lanjut suara di radio.
Anehnnya, Semprul tidak tertarik dengan siaran tersebut. ”Alah, cuma iklan bank,” guamammnya. Keesokan harinya, seluruah media cetak memuat berita yang dramatis. Yaitu mobil terjun dari lantai VI sebuah gedung, menewaskan satu keluarga.
Tak pelak, muka Semprul menjadi sepucat kertas. Karena hanya korannya, satu-satunya yang tidak memuat peristiwa itu. Pasti dia terkena marah bosnya.
Benar juga, saat ngantor Bosnya lansung memanggilnya. ”Lu ke mana aja begooo,” bentak sang bos yang langsung marah-marah.@
Semprulisme Pejabat Tramtib
Seorang pejabat tramtib, sebut saja namanya Semprul, sehari-hari begitu keras terhadap anak buahnya. Dia memang garang, seolah-olah bisa menaklukkan siapa pun. Tetapi wibawanya itu langsung sirna ketika berhadapan dengan salah seorang pejabat yang lebih penting. Bagaimana itu?
Sebuah gambaran saja, jika Semprul melihat anak buahnya yang tidak disiplin, maka akan sangat berang. Hukuman berat pasti datang menyambut. Semisal saja, jika melihat anak buahnya terlambat.
’’Lu push up seribu kali,’’ bentak Semprul. Atau ketika melihat anak buahnya cengengesan, maka tak segan-segan untuk mempermalukan di depan umum. ’’Teplak-teplak.’’ Tamparan demi tamparan mendarat di wajah anak buah Semprul.
Semprul memang sangar. Kepada orang lain terkadang juga bersikap sangar. ”Brrrr,” ujar dia suatu saat kepada wartawan. Kayak anjing herder saja. Tetapi pada suatu hari, ketika ada acara bertemu Gubernur Semprul datang dengan penampilan yang salah.
Betapa tidak, yang lain pada necis-necis pakai jas, dia malah santai-santai mengenakan pakaian olahraga. Tak pelak pejabat tangan kanan gubernur menjadi berang dibuatnya.
’’Lu, ganti pakaian,’’ ujar pejabat tersebut.Menariknya, Semprul saat itu bagaikan abdi dalem keraton Jogjakarta yang disuruh sultannya. ”Siap Pak,” ujar Semprul. Lantas dia meninggalkan tempat menuju Kantornya.
Tetapi sejurus kemudian dia nongol lagi dengan penampilan lebih aneh. Semprul sudah mengenakan jas, berdasi, namun bagian bawahnya masih mengenakan celana trining. ”Mohon izin Pak, celana saya ketinggalan di mobil,” ujar Semprul.
Wajar saja jika kemudian pejabat tersebut semakin berang. ”Sana cepetan, bego,” tegas pejabat itu. Semprul pun tergopoh-gopoh menuju mobilnya. ”Siap Pak,” ucap Semprul, agak terlambat.@
Semprulisme Wartawan Aspal
Seorang wartawan aspal (asli tapi palsu), sebut saja namanya Semprul, selalu saja berulah. Dia itu selalu mencari-cari kesalahan orang supaya bisa diperas. Tetapi suatu saat dia kena batunya. Bagaimanakah?
Maklum, Semprul itu bekerja kepada perusahaan media massa yang kumat-kumatan. Kadang terbit seminggu sekali tetapi dua bulan tidak terbit. Kadang terbitnya tiga bulan lagi. Pokoknya sejadi-jadinya dah.
Dia diberi gaji juga asal-asalan. Kadang perusahaannya memberinya gaji, tetapi sering tidak. Tak heran jika Semprul mencari gaji di jalan-jalan. Caranya, dengan dibekali dengan kartu pers dia mengaku wartawan.
Semprul dijuluki wartawan bangunan. Karena dia paling vaforit wawancara dengan pemilik bangunan yang bermasalah. Saat wawancara lagaknya mengalahkan petugas P2B saja, yaitu dengan memeriksa IMB segala.
Jika pemilik bangungan tak membawa IMB Semprul akan menggertaknya. ”Gua liput, mampus lu,” ujarnya. Keruan pemilik bangunan itu akan ketakutan. Supaya tidak terjadi, maka Semprul meminta digaji.
Begitu terus pekerjaan Semprul. Hingga suatu saat, dia menemukan lagi bangunan yang menurutnya bermasalah. Setelah dicari-cari ternyata pemiliknya adalah wartawan beneran. Walau tahu itu, Semprul tetap nekat memerasnya.
”Gua tulis lu,” gertaknya. Merasa tidak salah, wartawan tersebut mempersilahkan saja Semprul menulis sebebas-bebasnya. Sebab sekarang tidak ada seorangpun yang bisa menghalang-halangi tugas jurnalistik. Warawan bekerja dilindungi oleh Undang Undang.
Anehnya walau mengaku wartawan kok Semprul merasa tidak puas. Malahan dia mengharapkan yang lain. ”Yah, situ kan tahu sendiri kan, maksud gua,” ujar Semprul. Meski tahu, namun wartawan tersebut berpura-pura tidak tahu.
”Ya sudah, tulis saja kenapa sih,” ujar wartawan tersebut. Kini Semprul yang marah-marah. Dia memanggil teman-teman sebangsanya untuk mengerumuni Semprul. Namun mereka malah kena bentak. ”Gue tidak takut,” ujarnya.
Akhirnya Semprul CS mundur teratur.@
Semprulisme Ustad Politik
Seorang pemuka agama, sebut saja namanya ustad Semprul, mengisi acara pengajian di lapangan pinggiran ibu kota. Dalam ceramahnya Semprul mengajari bagaimana sikap yang tepat untuk Pilkada DKI. Dia juga banyak mengeluarkan dalil sebagai pembenar idenya itu. Apa sih ceramahnya?
Semprul tampil sebagai salah satu penceramah dari sekian ulama yang dihadirkan panitia pengajian tersebut. Rupanya dia sengaja ingin tampil beda. Ustad yang lain kebanyakan berceramah masalah etika dalam beragama.
Tetapi Semprul mengangkat tema etika berpolitik. Pada awalnya Semprul mengajak warga agar tidak larut dalam euforia Pilkada. Momen itu harus dijadikan peristiwa yang biasa saja, tidak boleh diistimewakan. Semprul berpesan agar warga tidak fanatis terhadap salah satu calon.
Sebab fanatisme yang berlebihan akan menimbulkan tindak kekerasan. Semprul mengajak warga agar menjadi massa pemilih yang rasional. Sikap itulah yang selalu dia pegang. Lalu apa definisinya?
Dia lantas memberi gambaran bagaimana sikap yang tepat menjadi pemilih yang rasional itu. Dalam pelaksanaan pilkada, foto pasangan cagub dan cawagub itu menurut butuh dicoblos. Yang paling banyak dicoblos akan menjadi pemenangnya.
Berarti yang menang akan menjadi penguasa yang tentu banyak uagnya. Menurut Semprul dalam pikada yang butuh itu jelas pasangan cagub dan cawagub itu. Sebaliknya, warga tidak butuh mereka sama sekali.
Untuk itu, kata Semprul, janganlah salah memilih pasangan calon-calon penguasa tersebut. Yang menguntungkan silahkan dipilih, tetapi yang tidak menguntungkan jangan. Lantas Semprul memberi ciri-ciri calon yang menguntungkan buat warga.
Antara lain, memberi uang tunai, memberi rumah, membangun atau memperbaiki fasilitas umum milik warga. Yang lebih penting lagi, pemberian itu harus dibayar di muka, bukan setelah menjabat nanti.
Sebab sesuai pengalaman jika tidak dibayar di muka, maka itu tinggallah janji-janji. ’’Jadi kite tunggu aje, siape calon yang datang ke kampung kite. Kalau die kagak ngasi kite apa apa, ngapain kita pilih die, iya kan,” ujar Semprul.
Menariknya peserta pengajian jadi bergairah dengan ceramah Semprul yang terkesan materialistis itu.
Tetapi sebagian peserta malah curiga bahwa Semprul merupakan salah satu tim sukses salah seorang calon gubernur yang akan datang ke kampung tersebut. Sebab dengar-dengar calon itu akan memberikan santunan.@
Semprulisme Wartawan
Malu bertanya sesat di jalan. Pribahasa yang amat terkenal itu seolah tidak berlaku pada Semprul . Sebab dia yang banyak bertanya alamat, kok malah semakin tersesat. Bagaimana ceritanya?
Jadi awalnya begini. Semprul yang seorang wartawan itu mendengar informasi peristiwa pencurian. Namun sayang, dia tidak menerima alamat lokasi kejadian yang lengkap. Dia hanya tahu nama jalannya saja.
Lantas dia bertanya ke petugas salah di salah satu polsek. Eh, bukannya memberitahu informasi lebih lanjut, petugas itu malah ketakutan. Petugas itu malah menyarankan agar Semprul tidak usah meliput kejadian tersebut.
Sebab dia takut kena marah atasannya yang kapolres itu. Sebab jika ada kriminalitas yang terekspos ke media massa, atasannya itu selalu kebakaran jenggot. Padahal tidak ada hubugannya.
Alias Jaka Sembung naik ojek, enggak nyambung Jek. ”Oo, dasar Kampret,” gumam Semprul saat meninggalkan petugas tersebut. Namun Semprul tidak putus asa menjalankan misinya.
Dia bertanya kepada setiap orang yang dijumpainya. Semakin lama semakin mendapat petunjuk terang. Sebab keterangan mereka mengarahkan ke salah satu lokasi yang sama. ”Ya udah, ente setelah itu tanya lagi deh, udah dekat kok,” ujar salah seorang tukang ojek.
Merasa berada di alamat yang tepat, Semprul bingung. Pasalnya lokasi tersebut merupakan lingkungan yang sepi. Wajar saja jika menjadi favorit para maling beraksi. Tetapi Semprul senang ketika melihat seorang bapak-bapak yang lewat.
Saat bertanya, pria yang terlihat berwibawa itu serius menanggapi pertanyaan Semprul. Tetapi giliran menjawab, Semprul terperanjat kaget. ”Walah walah walah, hulah hulah hulah,” ujar orang yang ternyata mengidap gagu tersebut. Saat ngomong, tangan si gagu menunjuk ke suatu arah yang seolah-olah nun jauh di sana.
Konyolnya, Semprul menanggapinya. Dia kemudian tancap gas menuju arah yang ditunjuk oleh si gagu. Setelah jauh dia ragu-ragu juga. Akhirnya setelah bertanya lagi, Semprul jadi menyesal luar biasa.
Ternyata alamat yang dituju adalah tepat di depan si gagu yang semula dijumpainya. Setelah selesai urusan, Semprul malah perang dengan batinnya sendiri. ”Yang bego itu sebenarnya gue atau orang gagu tadi sih,” pikirnya. Tetapi lama kelamaan dia mengakui kalau dirinyalah yang lebih bego.@
Semprulisme Korban Tabrakan
Seorang cewek cantik pada suatu hari ingin menjajal kepiawaiannya naik motor. Tapi sial, cewek itu malah menabrak seorang kakek-kakek bernama Semprul. Lantas bagaimana nasib keduanya?
Begini ceritanya. Pada awalnya si cewek itu merasa gemes dengan motor baru milik temannya. Lalu dia meminjamnya untuk berkeliling kampung.
Karena pemiliknya tidak ikut, maka si cewek berperilaku agak kasar. Semisal kalau ada polisi tidur, dia tidak mengerem. Sebaliknya dia malah tancap gas bak seorang crosser yang bersiap jumping.
Begitu pula kalau ada tikungan, dia sama sekali tidak mengurangi kecepatan. Dia malah membayangkan berada di tikungan sirkuit moto GP. Tapi setelah melewati tikungan, dia mengerem mendadak, ”Ciiit. Bruk.”
Tak pelak, karena hilang keseimbang dia akhirnya jatuh. Tetapi sebelum jatuh dia menabrak Semprul dengan telak. Akibatnya, kedaan Semprul amat berantakan.
Sebuah besek berisi nasi yang dia bawa dari acara kendurian berceceran.Semprul mengaduh kesakitan. Sejurus kemudian sejumlah kampung pada bedatangan.
Anehnya, mereka malah menolong si cewek yang keadaannya tidak terlalu parah. ”Neng, nggak apa-apa Neng. Aduh mari saya gendong,” ujar Kampret menawarkan bantuan.
Tetapi si cewek menolak. Dia malah meminta agar Kampret CS itu menolong kakek-kakek yang ditabrakknya. Dia juga mengaku sebagai pihak yang salah dalam peristiwa tersebut.
Anehnya, Kampret tetap ngotot ingin menolong cewek itu.
Sebaliknya, Semprul yang tidak bisa berdiri lagi setelah ditabrak malah dibiarkan saja. ”Belum tentu Eneng yang salah. Kita nanti bahas duduk persoalannya,” dalih Kampret.
Dasar Kampret yang dasarnya mata keranjang, tanpa pikir panjang lagi dia menggendong cewek itu minggir. Lalu dia memijit-mijit kaki si cewek. Melihat itu, Semprul tidak terima.
Lalu tanpa sadar dia langsung sehat secara mendadak. ”Eh kurang ajar lu ye. Seharunya dari tadi Neng itu yang pijitin gue,” ujarnya yang protes kepada Kampret.
Rupanya dari tadi Semprul menunggu kesempatan untuk diperhatikan penabrakknya. Eh ternyata malah penabrakknya yang diperhatikan oleh orang lain.@
Semprulisme Kakek Baru
Seorang pria gaek nan terhormat, sebut saja namanya Semprul suatu hari merasa luar biasa senang. Pada saat itu dia berhasil menjadi seorang kakek. Sebab anak bungsunya, yang besekongkol dengan menantunya sukses mencetak cucu pertamanya.
Yang membuat dia bangga, cucunya itu laki-laki. Sungguh sebuah peristiwa yang selama ini diimpi-impikannya menjadi sebuah kenyataan. Cucunya itu dilahirkan di sebuah rumah sakit. Namun si kecil belum diberi nama.
Ternyata menjadi kesibukan tersendiri untuk menamai si kecil itu. Semua sanak saudara yang membesuk di rumah sakit pada memutar otak. Tujuannya untuk menemukan nama yang pantas buat si bayi laki-laki yang baru lahir di muka bumi ini.
Keluarga dari pihak besan besan Semprul juga turut larut di dalam kesibukan itu. Akhrinya satu-persatu gagasan nama-nama buat si kecil itu pada bermunculan. Ada yang yang memberi nama khas Timur Tengah, ada yang kebarat-baratan, ada yang ala Rusia, ada yang khas Indonesia dan sebagaianya.
Rupanya masing-masing orang itu saling mempertahankan gagasannya. Soalnya masing-masing merasa gagasannya paling pas untuk nama si kecil. Alahasil, suasana yang semula rilex berubah agak tegang.
Dari yang semula berdiskusi, malah menjadi sebuah perdebatan seru. ”Ahmad! Robert! Thomas Alfa Edison ! Vladimir Putin! Pokoknya Sapii..titik,” ujar para audien itu. Nah, rupanya Semprul yang sama sekali tidak memikirkan sebuah nama itu perlu bertindak sebagai pemecah suasana.
Maksudnya agar tidak tegang-tegang amat gitu loh.
Maka dia dengan lantang mengeraskan suaranya untuk menyebutkan sebuah nama. ”Jangan susah-sasah. Kasih aja nama Jablai, gitu he he he,” ujarnya bangga.
Dia merasa bangga karena menganggap semua orang bakalan tertawa. Tapi kenyataannya lain. Sebab semua orang hanyalah terbengong-bengong melihatnya. Keruan Semprul jadi salah tingkah.
Semprul merasa tidak bersalah dengan ucapannya. Meski tidak mengerti maksudnya, tapi dia memang sering mendengar kata jablai. Apalagi anaknya sering menyetel VCD klip lagu dangdut Titi Kamal yang berjudul ’Jablai.’
Maka Semprul terinspirasi dengan kata yang dianggapnya bagian dari bahasa gaul itu. ”Lai lai lai lai lai lai, panggil aku si jablai.”@
Semprulisme Calon Panwasda
Seorang warga negara, sebut saja namanya Semprul, sangat berambisi menjadi anggota Panitia Pengawasan Pilkada (panswasda). Menurutnya, menjadi panwasda itu keren habis, maka tak salah jika dia mempersiapkannya segalanya jauh hari. Tetapi saat ikut tes, dia meringis-meringis. Kenapa dia ya?
Padahal sebelumnya Semprul tak pernah berhenti belajar. Mulai dari UUD, hafalan Panca Sila lagi, Sumpah Pemuda, pokoknya semua dia pelajari. Siang malam dia membaca buku. Sampai anak istrinya dia lupakan untuk sementara waktu.
Tujuan semua itu hanyalah, agar dirinya bisa lolos dari seleksi panwasda. Dia juga ingin membuat anggota DPRD yang bertugas menyeleksi, terkagum-kagum. Dia yakin akan mampu menyelesaikan semua soal dengan benar.
Tetapi kenyataan berkata lain. Saat seleksi berjalan, mukanya selalu cemberut. Tangannya selalu memegangi jidatnya selama mengerjakan tes tulis itu. Sedangkan kertas jawaban dibiarkannya bersih.
Saat pertama, kepalanya dirasakan pusing. Keringat dingin mengucur dari setiap pori-pori kulitnya. Lama-lama perutnya sakit. Tanpa ampun, Semprul harus berkali-kali izin ke belakang untuk meredakan sakit perutnya itu.
Akhirnya waktu tes telah berakhir. Setiap peserta harus mengumpulkan lembar jawabannya. Semprul tercengang. Sebab lembar jawabannya masih sedikit sekali tersentuh oleh pensilnya. Soal-soalnya tidak terjawab.
Namun Semprul harus tetap mengumpulkan lembar jawaban itu. Lantas dia ke luar, lalu ada seorang wartawan yang mewancarainya. ”Aduh, pokoknya tipis sekali peluagnya deh,” ujarnya kesal.@
-
Arsip
- Februari 2008 (9)
- Januari 2008 (15)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS