Semprulisme Calon Panwasda
Seorang warga negara, sebut saja namanya Semprul, sangat berambisi menjadi anggota Panitia Pengawasan Pilkada (panswasda). Menurutnya, menjadi panwasda itu keren habis, maka tak salah jika dia mempersiapkannya segalanya jauh hari. Tetapi saat ikut tes, dia meringis-meringis. Kenapa dia ya?
Padahal sebelumnya Semprul tak pernah berhenti belajar. Mulai dari UUD, hafalan Panca Sila lagi, Sumpah Pemuda, pokoknya semua dia pelajari. Siang malam dia membaca buku. Sampai anak istrinya dia lupakan untuk sementara waktu.
Tujuan semua itu hanyalah, agar dirinya bisa lolos dari seleksi panwasda. Dia juga ingin membuat anggota DPRD yang bertugas menyeleksi, terkagum-kagum. Dia yakin akan mampu menyelesaikan semua soal dengan benar.
Tetapi kenyataan berkata lain. Saat seleksi berjalan, mukanya selalu cemberut. Tangannya selalu memegangi jidatnya selama mengerjakan tes tulis itu. Sedangkan kertas jawaban dibiarkannya bersih.
Saat pertama, kepalanya dirasakan pusing. Keringat dingin mengucur dari setiap pori-pori kulitnya. Lama-lama perutnya sakit. Tanpa ampun, Semprul harus berkali-kali izin ke belakang untuk meredakan sakit perutnya itu.
Akhirnya waktu tes telah berakhir. Setiap peserta harus mengumpulkan lembar jawabannya. Semprul tercengang. Sebab lembar jawabannya masih sedikit sekali tersentuh oleh pensilnya. Soal-soalnya tidak terjawab.
Namun Semprul harus tetap mengumpulkan lembar jawaban itu. Lantas dia ke luar, lalu ada seorang wartawan yang mewancarainya. ”Aduh, pokoknya tipis sekali peluagnya deh,” ujarnya kesal.@
Semprulisme Bos Tempat Hiburan
Sebuah tempat hiburan menyediakan servis gratis buat petugas. Tetapi karena seringnya petugas menggunakan fasilitas gratis itu, membuat pemiliknya, Am Siong, kelabakan juga. Akhirnya dia memberlakukan ’servis’ tambahan. Apakah itu?
Ceritanya begini. Tempat hiburan itu sejarahnya sering digerebek petugas. Tamu-tamu yang kedapatan membawa narkoba dikelar petugas. Am Siong gerah juga karena banyak tamunya pada kabur.
Lantas dia mendekati petugas intinya agar tempatnya tidak sering jadi sasaran razia. Maka salah satu cara adalah memberi servis gratis. Tak pelak, petugas yang suka dugem, Semprul CS tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Hampir setiap malam Semprul CS tidak melewatkan dugem gratisan. Am Siong tentusaja senang, karena petuagas kini menjadi bagian dari tamu-tamunya. ’’Ayo silakan dinikmati,’’ ujarnya sembari menuangkan minuman keras (miras).
Sehari, dua hari, seminggu, dua bulan akhirnya Am Siong heran juga. Sebab rombongan Semprul itu doyan sekali menghabiskan miras. Stok miras di gudang menjadi berkurang secara cepat. ’’Waduh kalau begini calanya, oe bisa bangklut,’’ gumam Am Siong.
Hingga suatu saat, Am Siong memutar otak. Kini jika rombongan Semprul datang diberi pelayanan ekstra. Yaitu diberi pelayan cantik yang siap selalu menuangkan miras ke dalam gelas.
Jika sebelumya, Semprul CS itu membuka botol lalu menuangkan miras sendiri ke dalam gelas. Tetapi kini menjadi serba dilayani. Namun, Semprul CS itu merasa ada yang lain dari biasanya. ”Aneh, gue minum banyak tapi kagak mabok,” gumam Semprul.
Ternyata tidak disadari, Semprul CS terkena trik Am Siong. Ternyata Am Siong menyajikan miras bekas. Yaitu sisa-sia miras dari tamu lain yang tidak habis dikumpulkan menjadi satu di dalam ember.
Kemudian miras oplosan itu dimasukkan lagi ke dalam botol-botol. Saat disajikan, miras itu sudah diberi es batu. Hingga suatu saat, aksi Am Siong itu kepergok oleh salah satu karyawannya, saat sibuk di depan ember.
Tetapi ketika ditanyakan sedang apa, Am Siong malah marah-marah. ”Huss, sana pelgi, atau oe pecat lu,” bentak Am Siong. Karyawan itupun akhirnya diam-diam menyebarkan cerita ini
Semprulisme Bocah SD
Seorang bocah SD, sebut saja namanya Sempril, bandelnya bukan main. Namun demikian, dia lain dari anak kebanyakan. Dia benci sekali dengan pelajaran olahraga. Jika mata pelajaran itu berlangsung, dia selalu bikin ulah. Apa yang dilakukannya?
Kenakalan Sempril meliputi segalanya. Mulai nakal dengan teman-temannya hingga nakal dengan gurunya. Semuanya jadi tobat kapadanya. Misalnya, dia itu suka sekali menyembunyikan tas milik temannya.
Kadang suka iseng memberi permen karet pada bangku temannya. Tidak hanya itu, dia juga suka ngerjai gurunya. Biasanya dia suka menyembunyikan kapur tulis yang dibawa gurunya.
Tujuannya, guru tidak jadi mengajar di kelas. Yang lebih bandel lagi, dia jatuh cinta kepada salah seorang guru perempuannya. Dia sering mencuri makanan ringan kemasan dari toko milik ibunya di rumah untuk hadiah sang guru cantik itu.
Tapi dasar anak bandel, guru itu sampai dibuat menangis karena roknya sengaja disingkap Sempril di hadapan umum. Karena perbuatannya, Sempril sering terkena setrap atau jeweran dari guru-gurunya. Kalau untuk ngegebukin teman-temannya terutama yang bocah laki-laki, itu sudah menjadi makanan Sempril setiap hari.
Kebanyakan anak bandel biasanya punya kelebihan pada pelajaran olahraga. Anehnya, kelebihan itu tidak dimiliki oleh Sempril. Main bola tidak bisa, main voli tidak bisa, apa pun tidak bisa.
Jadi nyaris Sempril tidak punya kelebihan lain selain kebandelannya itu sendiri. Nilai mata pelajaran yang lain juga pas-pasan. Jika mata pelajaran olahraga, Sempril suka resek. Pada dasarnya sih dia minder karena memang tidak bisa.
Contohnya pada saat main bola, maka dia selalu menendang bola sampai ke luar lapangan. Bola itu akhirnya nyangkut di genting orang. Alasannya Sempril malakukan itu, katanya untuk menyelamatkan bola dari serangan musuh.
Akibatnya, waktu main bola habis gara-gara sibuk mengambil bola. Berkali-kali Sempril ditegur oleh gurunya. Tatapi teguran itu masuk ke telinga kanan, keluar ke telinga kiri. Hingga suatu saat, Sempril diancam guru olahraga akan diberi nilai 4.
Anehnya Sempril tidak takut dengan ancaman itu. ”Kagak apa apa Pak, ane ikhlas,” ujar Sempril. Tak pelak, dia akhirnya tidak naik kelas. Nilai rapotnya banyak yang merah. Tak pelak, saat rapat pengambilan rapor, ibu Sempril juga ikutan bermuka merah karena malu.
”Ibu harus mendidik anaknya lebih keras lagi di rumah,” ujar Pak Guru memberi arahan kepada Ibu Sempril. Atas saran itu, Sempril lantas berkali-kali kena jeweran serta tabokan di rumahnya. ”Adu aduh ampuuun,” teriak Sempril berkali-kali.@
Semprulisme Polisi v 3 Cewek Badung
Kelakuan tiga cewek badung, bikin seorang polisi menjadi kualahan. Mereka itu tertangkap polisi gara-gara melanggar lalu lintas. Eh tetapi akhirnya merka kok bisa lolos. Kok bisa ya?
Sebut saja nama ketiga cewek itu masing-masing Ginuk, Minul, serta Mentul. Mereka itu tipe pelanggar lalu lintas kelas berat. Bayangkan saja, meski berjenis kelamain cewek namun mereka itu cuek saja naik motor yang dibrondol habis. Tidak bawa helem lagi.
Boro-bora mereka SIM serta STNK, berpakaian saja masih belum lengkap. Ada yang masih pakai tang top, mereka semuanya pake celana pendek. Sudah begitu masih bau lagi. Maklum, meeka belum pada mandi.
Memang kelihatannya mereka terburu-buru sih. Tapi entah untuk urusan apa, tidak penting gitu loh. Walau begitu, mereka nekat nyelonong lewat depan kantor polisi. Tetapi dari kejauhan, Brigadir Semprul sudah memerhatikan mereka.
Hingga pada saat dekat, ”prit prit prit,” Semprul meniup peluitnya berkali-kali. Semprul menangkap mereka. ”He he he, lumayan, sarapan pagi,” gumam Semprul. Anehnya ketiga cewek itu tidak punya tampang bersalah sama sekali.
Mereka malah terheran-heran kepada polisi yang memberhentikan mereka. ”Selamat Pagi, anda melanggar lalu lintas. Kenapa kok naik motor bertiga,” tegas Semprul. Anehnya Ginuk berlagak sok kaget dengan omongan Semprul itu.
Dia malah menyangkal dikatakan naik motor, yang benar adalah naik sepeda angin. ”Bapak perhatikan baik-baik. Masak motor kok kurus begini,” ujar Ginuk. ”Lagian mau naik bertiga atau berlima suka-suka kita dong,” tambah Ginuk. Diperlakukan begitu, keruan Semprul juga protes.
Dia lalu menjelaskan definisi motor dan sepeda angin. Sebagai petugas yang berpengalaman, Semprul tahu benar mana motor mana sepeda angin. ”Jadi kalian ini naik motor, motor, motor, pokoknya motor titik,” ujar Semprul kesal. Tetapi cewek-cewek itu kembali mengajak berdebat.
Hingga akhirnya Semprul yang kualahan. ”Aduh, sudah sudah pergi sana. Bikin kepala pusing aja,” kata Semprul. Keruan keputusan itu menguntungkan bagi ketiga cewek tersebut. Akhirnnya mereka bisa bebas secara gratis. ”Da da Bapak,” ujar mereka sembari tancap gas.
Tak pelak, perut Semprul terus keroncongan gara-gara belum sarapan.@
Semprulisme Wakapolsek
Seorang Wakapolsek, sebut saja namanya AKP Semprul selalu saja bikin ulah. Mentang-mentang jadi polisi, Semprul maunya enak sendiri. Tetapi suatu saat dia kena batunya juga.
Ceritanya begini. Semprul suatu ketika ketiduran. Bangun-bangung HP nya kok hilang. Jadi dia bingung harus marah kepada siapa. Apalagi saat itu kantornya sepi. Semua anggotanya sibuk latihan bola.
Lantas dia mencari-cari sasaran amarah. Dia panggil seorang tukang sapu halaman polsek. ”Elu pasti malingnya. Kagak bisa pokoknya elu,” ujar Semprul. Saat tukang sapu itu tidak mengaku, Semprul langsung main smack down.
”Bak buk bak buk.” Sampai sekujur badan tukang sapu itu babak belur. Tetapi si tukang sapu rupanya melek hukum juga. Dengan berbekal visum, dia melaporkan tindakan Semprul itu ke polisi.
Walhasil Semprul yang akhirnya kebakaran jenggot. Terpaksa dia merogok Rp. 3 juta untuk membungkam si tukang sapu. Dia juga disuruh mencabut laporan. Ternyata si tukang sapu senang juga dengan uang suap itu.
”He he he, sering-sering gebukin saya aja ya Pak,” ujar takang sapu itu. Namun Semprul merasa bangkrut juga. Lantas dia butuh cara untuk mempertebal dompetnya lagi. Langsung saja dia temui juragan gudang minuman keras (miras) di wilayahnya.
Aneh juga, katanya miras itu melanggar hukum, tetapi gudang itu kok dibiarkan saja. Dengan setengah malu-malu Semprul meminjam Rp. 2 juta kepada pemiliknya. Eh, main pinjam aja Semprul.
Giliran ditagih, Semprul malah marah-marah. Malah keluar kata-kata tak senonoh dari mulut Semprul. Kebetulan pengelola gudang miras tersebut memang cewek. Lha, Semprul mengatai cewek tersebut, katanya itunya bau alkohol. Semprul juga mengancam akan menggerebek tempat usahanya jika cewek itu berani menagih hutangnya lagi.
Yah, akhirnya si cewek pengelola gudang miras itu hanya bisa miris jika melihat Semprul.@
Semprulisme Lurah v Pemuda Kampret
Seorang pemuda, sebut saja namanya Kampret, belagunya minta ampun. Mentang-mentang anak seorang Lurah, dia maunya berbuat seenaknya. Tetapi akhirnya dia terkena batunya juga. Kenapa ya?
Kampret itu memang terkenal bandel di kampungnya. Ya mulai mabuk-mabukan lah, memukul warga lah, makan di warung tidak bayar lah, pokoknya buandel banget. Anehnya tidak ada seorang wargapun pun yang berani mencegah kebeandelannya.
Maklum anak pak lurah gitu loh. Mungkin warga segan dengan bokapnya, yaitu Lurah Semprul. Padahal Semprul itu juga bandel dalam kapisitasnya sebagai pejabat Negara. Orang-orang bilang, bandelnya Kampret itu bandel turunan.
Kampret yang bandel itu seolah dibiarkan saja oleh bokapnya. Kepada saudara-saudaranya, Kampret juga sok kuasa. Suatu saat dia main ambil saja motor milik sepupunya. Walau diprotes tetap saja Kampret tidak menggubris.
Padahal motor itu akan digunakan untuk keperluan yang lebih penting. Tetapi Kampret langsung tancap gas, main ke suatu tempat. Dasar anak bandel, pergaulannya juga tak jauh dari orang-orang bandel.
Ternyata motor itu dipinjam lagi oleh teman kampret yang super bandel. Akhirnya motor itu tak kembali lagi selamanya. Ternyata kali ini suadara sepupu Kampret tidak tinggal diam. Dia meminta pertanggung jawaban bokap Kampret.
”Pokoknya ane kagak mau tahu. Pokoknya Encang harus ganti rugi,” tuntut saudar sepupu itu kepada Lurah Semprul. Nampaknya Semprul masih berdalih, yaitu tidak ikut-ikutan dalam masalah tersebut.
”Kan itu bukan urusan gue,” kata Semprul dengan pedenya. Tetapi setelah diancam hendak dilaporkan ke polisi, Semprul berubah menjadi ketakutan. Akhirnya Semprul terpaksa mengganti rugi motor yang hilang itu.
”Aduh, sial. Hangus dah jatah gue,” gerutunya. Soalnya ganti rugi itu dia ambilkan dari hasil menilep dana kompensasi banjir. Walau sebetulnya sisanya masih banyak, tetapi gerutu Semprul itu kok tiada akhir.
Semprulisme Mahasiswa
Pada sebuah acara lintas negara, berkumpullah mahasiswa sedunia. Dalam acara tiga hari itu, terjadilah romantika antara mahasiswa Indonesia dengan mahasisiwi Singapura. Bagaimana kisah cinta mereka?
Acara tersebut sebetulnya sangat ilmiah. Penyelenggaraannya di hall salah satu vila di Puncak, memberi suasana selalu segar. Salah satu mahasiswa tuan rumah, sebut saja namanya Semprul rupanya jenuh dengan agenda utama.
Bukannya dia memerhatikan nara sumber, malahan dia tertegun oleh kecantikan salah seorang mahasiswi asal Singapura. Sebut saja cewek itu bernama Cuit Cuit, yang berdarah bule-Tiongkok.
Semprul langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayang dia itu beraliran kebatinan, alias perasaannya sekadar dibatin doang, kagak berani kenalan. Malahan, si cewek akhirnya merasa juga kalau diperhatikan. Hingga suatu saat, si cewek tersenyum kepada Semprul.
Tak pelak, jantung Semprul menjadi, dag dig dug derrr. Mengingat senyuman cewek itu, Semprul merasa cintanya dibalas. Hatinya puas. Tetapi dia tetap tidak berani menanyakannya secara langsung.
Pada saat acara break untuk makan bersama saja Semprul masih tidak berani berkenalan. Suasana itu berlangsung hingga dua hari. Kedua muda-mudi beda negara itu hanya saling mencuri pandangan. Hingga pada malam menjelang akhir acara, Semprul sangat terkejut.
Di luar dugaan, saat bengong dia justru dihampiri oleh Cuit Cuit. Justru cewek cantik itu yang menyapanya, mengajaknya berkenalan, lalu mengajak ngobrol dengan bahasa Inggris yang fasih. Tapi apa jawaban Semprul?
”Ba ba bu bu,” ujar Semprul sembari tubuhnya gemetaran. Karena Semprul bersikap aneh, maka Cuit Cuit meninggalkannya. ”Sudah saya kira, dia itu memang pemuda gila,” gamam cewek itu dalam bahasa Inggris.
Ternyata selain tidak percaya diri, Semprul punya problem serius yang lain. Yaitu tidak bisa berbahasa Inggris. Tak ayal cintanya harus pupus di tengah jalan. Padahal Cuit Cuit semula penasaran juga dengan Semprul yang memang agak ganteng sih orangnya.@
Semprulisme Bintara TNI
Seorang bintara TNI, sebut saja namanya Serka Semprul, doyan sekali dugem. Tetapi masalah kemudian muncul, sebab hobinya itu ditentang oleh polisi militer (POM) yang sering merazia tempat hiburan. Lalu Semprul punya satu cara untuk menghindar. Berhasilkah dia?
Entah apa yang ada di benak Semprul. Keberadaan keluarga di rumah tidak menyenangkan hatinya. Tangisan anak-anaknya ketika rewel dia anggap sebagai bahaya laten. Sementara istrinya yang menagih uang belanja dia ibaratkan sebuah ancaman negara dari dalam.
Untuk itulah dia gemar mengunjungi tempat hiburan. Dengan menenggak berbotol-botol minuman keras serta menowel-nowel amoy-amoy dari Negara tirai bamboo membuatnya damai. Tetapi versi petugas POM, anggota TNI yang doyan dugem itu merupakan preseden buruk, sebuah tindakan indisipliner.
Makanya dirazia saja. Hingga suatu saat, POM benar-benar merazia tempat hiburan. Semprul yang berada di salah satu tempat hiburan tersebut mengetahui kegiatan itu. Lantas cepat-cepat dia ke luar dari tempatnya berdugem ria.
Kemudian dia memilih berpura-pura tiduran di dalam mobilnya di halaman parkir. Sial, seroang petugas intel melihat gelagatnya itu. Maka beberapa petugas POM akhirnya mendekatinya.
Digedorlah pintu mobil itu. Semprul masih berpura-pura tertidur pulas. Padahal jika diamati, tubuh pria berambut cepak itu bergetar. Sedangkan keringat dingin mulai bercucuran dari setiap pori-pori kulitnya.
Gedoran pintu mobil tersebut semakin keras. Akhirnya Semprul menyerah juga. Dia memutuskan keluar dari mobil tetapi sudah mempersiapkan siasat untuk menghindar dari ”musuh.” ”Saya bukan anggota (TNI) Pak,” dalih dia kepada petugas POM.
Dia menjadi sok sipil, dengan membumbui perilakunya jadi fungky habis bak seorang penyanyi rap. Tetapi petugas tidak percaya begitu saja. Lantas salah satu petugas punya trik khusus untuk memancing alam bawah sadar anggota TNI.
”Siap grak!,” bentak petugas itu keras-keras. Menariknya, Semprul langsung meresoponnya dengan sikap sempurna. Lantas petugas tesebut meminta Semprul mengucapkan Sapta Marga. Langsung saja Semprul mengucapkannya dengan lancar di luar kepala.
”Ooo dasar Semprul lu,” ujar petugas tersebut. Ternyata setelah digeledah, ditemukan kartu anggota TNI dari dompet Semprul. Tak ayal, Semprul kemduian digelandang naik truk menuju markas POM. Semprul hanya bisa tersenyum kecut.@
Semprulisme Hansip
Seorang hansip kampung, sebut saja namanya Semprul, memang luar biasa. Walau berprofesi hansip, dia punya istri secantik artis ngetop. Tetangga-tetangganya tergiur. Lantas apa yang dilakukan tetangganya itu?
Bukan tanpa alasan Semprul bisa menggaet cewek secantik Minul, yang kini jadi istrinya. Dia itu memang hobi ngebacot. Bicaranya manis kayak sales jamu kuat. Dengan kelebihannya pandai berbicara, dia tak sekadar pandai merayu cewek-cewek.
Dengan rayuan mautnya, kini dia punya bayi bersama Minul. Semprul memang mudah bergaul. Dia itu sebenarnya tugas utamanya menjaga keamanan RW sebuah perumuahan elite. Namun kenyataannya kesibukannya tidak kalah dengan pejabat.
Selalu ada saja pekerjaan sampingan yang diperoleh dari warga yang tajir-tajir itu. Mulai mencari informasi tanah, informasi mobil, pemesanan mebel, sampai penyelenggaraan pesta ulang tahun, warga selalu meminta jasa Semprul.
Kelebihan Semprul memang supel serta cekatan sih. Tak hanya itu, Semprul dasarnya memang baik. Apa yang bisa dia bantu maka dengan sukarela dia akan membantu orang lain.
Maka tak heran jika penghasilan Semprul jauh melebihi penghasilan seorang hansip pada umumnya. Karena baik, tak jarang para tetangganya banyak yang memanfaatkannya. Ya hutang tidak bayar lah, pinjam barang tak kembali lah dan sebagainya.
Namun Semprul seolah tidak mau ambil pusing dengan itu. Yang lebih kurang aja adalah pekerjaan Kampret C.S. Mereka itu tetangga Semprul yang maniak kelamin. Dengan alasan tidak punya TV, mereka itu suka nimbrung nonton di rumah Semprul hingga tengah malam.
Padahal mereka punya modus tersendiri. Ternyata Kampret CS itu tahu kebiasaan istri Semprul yang cantik itu. Yaitu, sering ketiduran di depan televisi. Hingga suatu saat, momen yang ditunggu-tunggu tiba.
Semprul tidak ada di rumah karena tugas jaga. Sementara Minul, sembari menyusui bayinya, terus nonton TV di kursi. Tak lama kemudian, dia tertidur, bayinya juga tertidur di gendongannya.
Nah, itulah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Kampret CS. Dengan cara mengendap endap, Kampret mendekati Minul. Dia lalu menyingkirkan bayinya yang tertidur pulas.
Maka selanjutnya, dia yang berperan seperti bayi itu. ”Nyot nyot nyot.” ”Gantian dong,” ujar yang lainnya. Rupanya Minul memang tipe penidur sejati, sebab digituin kok tidak terasa. Atau sebetulnya terasa tapi pura-pura tidak terasa, siapa yang tahu itu.
Walau kejadian tersebut lumayan sering, namun rupanya Semprul sendiri belum tahu kelakuan Kampret CS itu. Jika tahu, mungkin bakalan terjadi pertumpahan darah.@
Semprulisme Kepala Suku Dinas
Sebuah proyek pembebasan lahan membutuhkan proses yang melelahkan. Semua pihak menjadi kehilangan akal sehat. Termasuk Semprul, salah seorang Kepala Suku Dinas yang punya proyek tersebut. Kenapa sih dia?
Warga, yang tanahnya terkena sasaran proyek tersebut, pada vokal. Mereka rata-rata tidak mau dengan kompensasi harga tanah. Mereka mau melepaskan lahan mereka, asalkan harganya cocok.
Berbagai macam negosiasipun dilayangkan. Namun berkali-kali pula gagal. Namun hingga suatu saat, tercapailah kesepakatan. Ternyata pemegang proyek mau menaikkan standar kompensasi.
Sementara warga, walau tidak sesuai harga yang diinginkan, dengan harga baru itu akhirnya mau demi proyek pemerintah. Tetapi pada dasarnya kedua belah pihak itu berhati dongkol, alias belum sepenuhnya ikhlas.
Semprul yang membuat kebijakan harga baru itu berhati dongkol. Mungkin kebijakan itu tidak membuat kantongnya tebal-tebal amat. Sebaliknya, sebut saja Kampret, seorang warga juga dongkol hatinya.
Kampret juga warga yang paling vokal untuk menuntut kenaikan kompensasi itu. Tetapi dia menyesal juga harus melepas tanah warisan nenek moyangnya. Kini kampret harus ribet dengan urusan pindah rumah. Apalagi lokasi rumahnya dikelilingi tembok.
Maka untuk mengambil jalan pintas, dia menjebol tembok itu. Maunya sih supaya praktis memindahkan barang-barang ke jalan besar. Toh tembok itu nantinya dihancurkan untuk proyek besar.
Tetapi sial, Kampret malah dijemput oleh polisi. Ternyata Semprul melaporkan tindakan Kampret itu. Keruan terjadilah debat panjang di Kantor polisi. Kampret yang diancam dipenjara gara-gara merusak bangunan orang, akhirnya diam.
Perkara itu lantas diselesaikan dengan UUD, alias Ujung Ujungnya Duit. Semprul dapat duit, polisi juga dapat duit. Sebab Kampret harus merogoh kocek dari dana kompensasi lahannya yang baru saja dibebaskan itu. Hingga hari ini, Kampret masih dongkol hatinya jika mengingat ulah Semprul.@
-
Arsip
- Februari 2008 (9)
- Januari 2008 (15)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS