Semprulisme Calon Panwasda
Seorang warga negara, sebut saja namanya Semprul, sangat berambisi menjadi anggota Panitia Pengawasan Pilkada (panswasda). Menurutnya, menjadi panwasda itu keren habis, maka tak salah jika dia mempersiapkannya segalanya jauh hari. Tetapi saat ikut tes, dia meringis-meringis. Kenapa dia ya?
Padahal sebelumnya Semprul tak pernah berhenti belajar. Mulai dari UUD, hafalan Panca Sila lagi, Sumpah Pemuda, pokoknya semua dia pelajari. Siang malam dia membaca buku. Sampai anak istrinya dia lupakan untuk sementara waktu.
Tujuan semua itu hanyalah, agar dirinya bisa lolos dari seleksi panwasda. Dia juga ingin membuat anggota DPRD yang bertugas menyeleksi, terkagum-kagum. Dia yakin akan mampu menyelesaikan semua soal dengan benar.
Tetapi kenyataan berkata lain. Saat seleksi berjalan, mukanya selalu cemberut. Tangannya selalu memegangi jidatnya selama mengerjakan tes tulis itu. Sedangkan kertas jawaban dibiarkannya bersih.
Saat pertama, kepalanya dirasakan pusing. Keringat dingin mengucur dari setiap pori-pori kulitnya. Lama-lama perutnya sakit. Tanpa ampun, Semprul harus berkali-kali izin ke belakang untuk meredakan sakit perutnya itu.
Akhirnya waktu tes telah berakhir. Setiap peserta harus mengumpulkan lembar jawabannya. Semprul tercengang. Sebab lembar jawabannya masih sedikit sekali tersentuh oleh pensilnya. Soal-soalnya tidak terjawab.
Namun Semprul harus tetap mengumpulkan lembar jawaban itu. Lantas dia ke luar, lalu ada seorang wartawan yang mewancarainya. ”Aduh, pokoknya tipis sekali peluagnya deh,” ujarnya kesal.@
-
Arsip
- Februari 2008 (9)
- Januari 2008 (15)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS