Semprulisme Hamba Oportunis
Seorang yang baru saja bertobat, sebut saja namanya Semprul, akhir-akhir ini gemar pergi ke masjid. Dia begitu tercengang mendengar sebuah ceramah khatib salat Jumat. Namun setelah itu konsentrasinya jadi buyar hingga membuat salatnya berantakan. Kenapa sih Semprul?
Jadi begini. Semprul itu merasakan akhir-akhir ini rezekinya lagi seret. Mungkin dia merasa banyak berdosa atau apa. Lantas dia memutuskan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sebenarnya niatnya bukan seratus persen ingin tobat. Melainkan tak lebih hanya ingin diberikan rezeki nomplok. Nah, ada yang menasihatinya agar sering-sering berada di masjid. Nanti akan ada petunjuk sendiri dari-Nya.
Hingga pada hari Jumat diapun ikut salat Jumat. Khatib ternyata berceramah tentang dibukanya pintu rezeki. Maka Semprul memasang telinga lebar-lebar karena ingin mendapatkan ’’untung beliung’’ itu. ’’Nah ini dia,’’ ujar Semprul bersemangat.
Tapi, si penceramah itu bukan dari tempat Semprul salat, melainkan dari masjid tetangga. Khatib tersebut menyebutkan doa-doa tertentu yang menyebutkan rezeki turun dari langit atau ke luar dari bumi. Anehnya, Semprul menjadi penasaran luar biasa setelah itu. ’’Oh jadi rezeki itu bisa turun dari langit, atau ke luar dari bumi. Gimana caranya ya,’’ pikirnya.
Sampai tiba salat Jumat, dia terus mendengarkan dengan penuh konsentrasi dan memikirkan agar bisa mendapat ’’durian runtuh’’ itu dari langit. Begitu konsentrasinya hingga ketika sang imam salat rukuk dan sujud, Semprul masih saja berdiri memikirkan ceramah dari masjid tetangga sembari memejamkan mata.
Tak pelak, dia sampai ketinggalan satu rakaat. Sebab yang lain sudah sujud sampai berdiri lagi di rakaat ke dua, Semprul masih berdiri saja berdiri sembari memejamkan mata. Akhirnya Semprul harus puas salat Jumat dengan satu rakaat saja.@
Belum ada komentar.
Tinggalkan sebuah tanggapan
-
Arsip
- Februari 2008 (9)
- Januari 2008 (15)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS