Semprulisme Wartawan Koran
Seorang wartawan koran, sebut saja namanya Semprul dua kali terkecoh oleh iklan salah satu bank. Yaitu adanya mobil yang terjun bebas karena terkena tiupan angin. Bagaimana kok bisa terkecoh?
Yang pertama, Semprul melihat koran. Dia terheran-heran melihat mobil nyangkut di atas genting gara-gara tertiup angin. ”Walah, ini di mana peristiwanya,” ujar Semprul saat itu.
Sebagai seorang jurnalis, dia lalu mengkritik berita tersebut. Sebab peristiwanya tidak ditulis dengan gamblang. ”Ngambil fotonya bagus, tapi beritanya kok tidak lengkap sama sekali,” gumammnya.
Keruan dia ditertawakan rekan-rekannya. ”Itu iklan bego,” ujar salah satu rekannya. Peristiwa itu berlalu. Pada saat libur panjang, Semprul kebagian piket. Dia yang paling bertanggung jawab meliput peristiwa saat itu.
Semprul meramal tidak bakalan terjadi peristiwa yang penting saat itu. Sebab, hari libur gitu loh. Maka dia memilih bersantai saja bersama keluarga. Malahan dia mengajak keluarganya berjalan-jalan naik mobil.
Namun untuk berjaga-jaga, dia selalu memantau kejadian lewat radio. ”Ada mobil terjun dari lantai VI gedung…,” bunyi di radio itu. ”Semua pengunjung mengerumuni mobil itu,” lanjut suara di radio.
Anehnnya, Semprul tidak tertarik dengan siaran tersebut. ”Alah, cuma iklan bank,” guamammnya. Keesokan harinya, seluruah media cetak memuat berita yang dramatis. Yaitu mobil terjun dari lantai VI sebuah gedung, menewaskan satu keluarga.
Tak pelak, muka Semprul menjadi sepucat kertas. Karena hanya korannya, satu-satunya yang tidak memuat peristiwa itu. Pasti dia terkena marah bosnya.
Benar juga, saat ngantor Bosnya lansung memanggilnya. ”Lu ke mana aja begooo,” bentak sang bos yang langsung marah-marah.@
Belum ada komentar.
Tinggalkan sebuah tanggapan
-
Arsip
- Februari 2008 (9)
- Januari 2008 (15)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS